BE PROMOTED HERE
Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Luna Kiss Dhani Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

Tanggal Hijriah

KOLEKSI VIDEO 3GP

- Luna Maya Kiss Ahmad Dhani
- Hantu Apes
- Dihajar Toket
- Puting Beliung

ARTIKEL DEDUDA ( SISI LAIN LAKI - LAKI )

- Apa yang pria inginkan
- Semua Wanita itu Cantik

About Author »

Foto Saya
Sudarto Karim
when you were born to the world, raise up a big question, " WHAT WOULD YOU BE NEXT .............. ?????? " My bro,,,, me, you, us, them, him, her, and it are the same ......... LET'S FIND OUT THE PURPOSE OF LIFE INSIDE OF OURSELVES
Lihat profil lengkapku »

Free File Hosting Service»

ALAMAT INSTANSI

Arsip Blog

Pengikut

  • Selamat Datang di Kota Karawang, Kota Cantik nan Eksentrik, kota perjuangan nan rupawan ......
  • Bendungan Parisdo (walahar)
  • Tugu Kebulatan Tekad Rengas Dengklok
  • Pantai Tanjung Pakis Kecamatan Pakis Jaya
  • Monumen Rawa Gede
  • Curug Cigentis
  • Pantai Tanjung Baru Cilamaya
  • Makam Syech Quro Pulobata
  • Makam Syech Bentong Pulomasigit
  • Candi Blandongn Batu Jaya
  • Candi Jiwa Batu Jaya
  • Pantai Samudra Baru Sungai Buntu
  • Danau Cipule Mulyasari Ciampel

Jumat, 30 April 2010 | 21.25 | 1 Comments

Situs Candi Jiwa

Situs Candi Jiwa adalah salah satu dari 17 situs di Areal Situs Batujaya. Disebut juga situs Segaran I, atau oleh masyarakat setempat disebut HUNYUR (UNUR) Jiwa. Situs candi ini berukuran 19 x 19 meter dengan ketinggian 4,7 m dari permukaan sawah. Pada bagian atas terdapat bata susun melingkar yang berbentuk seperti bunga padma dan diperkirakan itu adalah stupa.

Situs candi jiwa terbuat dari bata merah. Berdasarkan hasil carbon dating menunjukkan bahwa pada satu sisi menunjukkan abad ke IV dan pada sisi lain menunjukkan abad ke VII masehi. Yang apabila di telusuri berdasarkan historis sejarah kerajaan maka bertepatan pada masa kejayaan kerajaan Tarumanegara.

Di candi ini, pada saat sekarang ini beberapa kali dilaksanakan peringatan Tri Suci Waisak tahu saka, dengan peziarah yang berdatangan dari luar Kabupaten Karawang seperti dari Jakarta, Banten, Lampung dan kota - kota lainnya.

Lokasi : Desa Segaran Kecamatan Batujaya
Jarak : 45 km dari pusat kota.
Read More......

Situs Candi Blandongan

Situs Candi Blandongan adalah Candi dengan struktur pasangan batu bata, pada Candi ini juga ditemukan lantai Cor Beton menurut analisa adalah campuran batu koral, kapur kulit kerang dan pasir atras, Candi ini berukuran 24,6 m x 24,6 m dengan ketinggian 4,9 m dari permukaan sawah, di Candi ini juga ditemukan meterai - materai dalam keadaan utuh sebanyak 10 buah dan sejumlah pecahan.
Hasil Analisa Coedes Meterai - materai termasuk Typologi 1 yang berkembang pada masa Dvaravati, adegan menceritakan Keajaiban Srasvati dari naskah Diyavadana dari aliran Sarvasteveda, Aliran dari Threvada.
Dari hasil perbandingan dengan Materai - materai yang ada di Asia Tenggara, ternyata Materai - materai yang ditemukan di Candi Blandongan ada persamaan dengan materai - materai Kha Ok Dalu Phattalung di Thailand Selatan, Periode Dvaravati Abad ke 6-7 Masehi. Tahun 2001 ditemukan kerang bersama Fragmen Perunggu, hasil Analisa Carbon Datting yaitu Abad ke 2-4 Masehi, dan pada hasil Analisa batu bata Abad ke 7-10 Masehi, pada sisi lain menunjukan Abad ke 12 Masehi, jadi Candi Blandongan digunakan dari abad ke 2-12 Masehi, pada Candi Blandongan inilah membuktikan bahwa Bangsa Indonesia sudah mengenal Teknik Pembuatan Gerabah, Beton Cor sampai ke Hubungan Luar Negeri dari Abad ke 2-12 Masehi. Lokasi Situs Candi Blandongan terletak di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya 45 km dari Ibu Kota, Kabupaten Karawang.
Read More......

Curug CIKOLEANGKAK

Curug Cikoleangkak adalah air terjun terakhir, terletak di atas Curug Curug Curug Cikarapyak dan Cipanundaan, untuk mencapai air terjun ini perlu stamina dan keberanian menembus Hutan Woods.
Perjalanan ke Cikoleangkak Curug adalah stres cukup, kita akan melintasi Hutan Woods mungkin disentuh oleh jari manusia dalam hitungan menibir Rock tebing dan batu terjal dan jurang yang dalam, mendaki ketinggian dengan hanya berpegangan pada akar atau batu yang menonjol, menerabas semak belukar,
menelusuri sungai berbatu besar dan puluhan air terjun kecil dengan lega dan motif yang unik bisa menemukan langka di lain daerah di Indonesia.
Tours ke Curug Cikoleangkak hanya untuk orang - orang yang benar - benar-benar pecinta Alam Sejati dan bagi mereka yang mencari tantangna meningkatkan adrenalin alam. Lokasi Desa ini terletak Cikoleangkak Kutamaneuh Curug, Kecamatan Tegalwaru 42 km dari ibukota Kabupaten Karawang
Read More......

Curug CIKARAPYAK

Cikarapyak Curug Curug Cipanundaan di atas, perjalanan sangat berat karena jalan hanya melalui sungai berbatu, menibir naik dan turun, menerabas semak dan semak belukar. Perjalanan ke Curug meskipun ini berat, kita akan menyeberangi Panorama Alam yang sangat menakjubkan, indah, alami, dan banyak air terjun kecil dan berelif unik tidak bisa ada di sungai yang sama di beberapa daerah lain di Indonesia.
Mengunjungi Cikarapyak Curug hanya untuk orang - orang yang benar - benar mencintai Alam dan pencari Adventure yang ingin menantang hutan alam menikmati keragaman flora dan fauna yang asli. Lokasi terletak di Cikarapyak Curug Kutamaneuh Desa, Kecamatan Tegalwaru, 42 km dari ibu kota Kabupaten Karawang.
Read More......

Curug Cipanundaan

Curug Cipanundaan di kaki Gunung Sanggabuan dengan 3 (tiga) buah Curug bersama dalam satu area seperti tangga, air kolam kesatuan curungan tertunda, jatuh lagi di kolam kedua, tidak lagi ditunda dalam kolam ketiga jalan menuju air terjun masih Virgin Cipanundaan dengan jalan berkelok-kelok naik turun, melewati sungai berbatu-batu besar, tebing tepat di samping kiri tebing sungai.
Air terjun baru-baru ini ditemukan oleh masyarakat setempat, dan Tim Ekspedisi Tour dengan Ketua dari Drs. AA Nugraha Kepala Pengadilan Informasi, Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karawang pada waktu itu.
Tours ke Curug Panundaan sangat berat dan menantang, tapi panorama yang indah dan masih asli dan tidak tersentuh oleh tangan - tangan jahil, memberikan kesan bahwa tidak dilupakan. Lokasi Cipanundaan Kutamaneuh Curug terletak di Desa, Kecamatan Tegalwaru 42 km dari ibu kota Kabupaten Karawang.

Read More......

CURUG BANDUNG

Curug Bandung merupakan keajaiban Alam dengan 7 (tujuh) air terjun dalam satu aliran sungai, dari awal Curug Peuteuy, Curug Picung dan yang terbesar adalah Curug Bandung, Lawang terletak di bawah kaki Gunung Sanggabuana,
Curug cara ini cukup sulit berjalan sejauh 3 km, namun panorama Alam Indah, Asri, jauh dari polusi udara di Kota Besar.
Walaupun jalan menuju Curug ini hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki bersandar Olahraga Pariwisata masuk akal karena udara yang sehat dan bersih. Lokasi Bandung terletak Desa Curug Kecamatan Tegalwaru Mekarbuana 42 km dari ibu kota Kabupaten Karawang.


Read More......

VERSI LAIN SEJARAH KARAWANG

Pada tahun 1416 M, armada angkatan laut Cina mengadakan pelayaran keliling atas perintah Kaisar Cheng Tu atau Kaisar Yunglo, kaisar dinasti Ming yang ketiga. Armada angkatan laut tersebut dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Tay Kam yang beragama Islam. Demikian juga juru tulisnya ma Huan, beragama Islam.

Armada tersebut berjumlah 63 buah kapal dengan tujuan menjalin persahabatan dengan raja-raja selatan tetangga Cina. Dalam perjalanan menuju Majapahit, armada singgah di Pura, Karawang untuk sekalian menurunkan Syeh Hasanuddin yang ikut menumpang.
Syeh inilah kemudian berjodoh dengan Ratna Sondari, puteri penguasa Pura Karawang. Dari sinilah rentetan penyebaran agama Islam bermula ke seluruh wilayah di sekitarnya.

Karawang hingga sekarang terkenal sebagai lumbung padi nasional dengan area pesawahan sangat luas. Ternyata sejak zaman Kerajaan Sunda pun, Karawang merupakan salah satu kota pelabuhannya.

Bahasa dan Seni Tradisi: Penduduk asli Karawang adalah suku Sunda yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa aslinya, juga bahasa Indonesia sebagai bahasa formal. Berbagai seni yang tumbuh di daerah ini adalah: Tarling (Cibango, Sukatani, Cilamaya), Topeng Banjet (Karawang Utara, Parungpung, dsb), Wayang Golek (Teluk Jambe, Karawang, Babakan jati), Tanjidor, Calung, Pencaksilat, Goong renteng, Kliningan, gambang kromong, reog, wayang kulit (Rawa Gempol), Nadran (Pesta laut)dan Lomba Dayung.
Read More......

CURUG CIGENTIS

Curug Cigentis merupakan Sarana Wisata Unggulan Kabupaten Karawang, Curug ini berada dibawah kaki Gunung Sanggabuana, Panorama sepanjang jalan sangatlah indah, asri, jauh dari polusi udara yang ada di Kota Besar.
Walaupun jalan menuju Curug ini hanya bisa
ditempuh dengan jalan kaki sejauh 2 km dari tempat parkir kendaraan, namun dengan suguhan pemandangan alam yang memikat, tidak akan terasa kita telah Wisata sambil ber Olahraga yang membuat sehat karena udara yang bersih.
Air jernih yang mengalir di sungai kecil sepanjang jalan, membuat kita terpana akan keindahan Alam yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Lokasi Curug Cigentis terletak di Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru 44 km dari Ibu Kota Kabupaten Karawang

Artikel terkait Curug Cigentis :
- Curug Cigentis kebanggan Karawang
Wisata Jawa Barat - Curug Cigentis
“Curug Cigentis” Loji, Karawang
- Keasrian Air Terjun Curug Cigentis, Karawang
Read More......

MONUMEN RAWAGEDE

MONUMEN RAWAGEDE adalah sebuah Taman Makam Pahlawan para pejuang khususnya yang tewas pada pembantaian Massal Rawa Gede. Monumen ini didirikan untuk mengenang Pembantaian Masal yg menewaskan + 431 orang warga sipil pada tahun 1947 oleh Belanda. Monumen Rawagede terletak di Desa Balongsari, Kec. Rawamerta, Kab. Karawang, JABAR berdiri tegak sejak 1996 . Monumen ini salah satu saksi bisu dari sejarah betapa sadis dan kejinya penjajah Belanda pada saat itu, dengan tanpa ampun dan berprikemanusiaan membantai habis setiap warga yang terlihat dan tidak mau memberikan informasi. Monumen Rawa Gede salah satu bukti bahwa Kota Karawang layak dan pantas berpredikat KOTA PANGKAL PERJUANGAN.
Perjuangan warga Rawagede dan sekitarnya bukti nyata bahwa Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah hasil perjuangan dengan tumbal darah, harta, dan nyawa rakyat Indonesia, bukan kemerdekaan hasil dari kasihan, simpati, dan pemberian sia - sia dari Belanda.

Peristiwa Pembantaian di Rawagede

Di Jawa Barat, sebelum Persetujuan Renville ditandatangani, tentara Belanda dari Divisi 1 yang juga dikenal sebagai Divisi 7 Desember, terus memburu laskar-laskar Indonesia dan unit pasukan TNI yang masih mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Yang ikut ambil bagian dalam operasi di daerah Karawang adalah detasemen 3-9 RI, pasukan para (1e para compagnie) dan 12 Genie veld compagnie, yaitu brigade cadangan dari pasukan para dan DST (Depot Speciaale Troepen).

Dalam operasinya di daerah Karawang, tentara Belanda mencari Kapten Lukas Kustario, komandan kompi Siliwangi -kemudian menjadi Komandan Batalyon Tajimalela/Brigade II Divisi Siliwangi- yang berkali-kali berhasil menyerang patroli dan pos-pos militer Belanda. Di wilayah Rawagede juga berkeliaran berbagai laskar, bukan hanya pejuang Indonesia namun juga gerombolan pengacau dan perampok.

Pada 9 Desember 1947, tentara Belanda di bawah pimpinan seorang Mayor mengepung desa Rawagede dan menggeledah setiap rumah. Namun mereka tidak menemukan sepucuk senjatapun. Mereka kemudian memaksa seluruh penduduk keluar rumah masing-masing dan mengumpulkan di tempat yang lapang. Penduduk laki-laki diperintahkan untuk berdiri berjejer, kemudian mereka ditanya tentang keberadaan para pejuang Republik. Namun tidak satupun rakyat yang mengatakan tempat persembunyian para pejuang tersebut.

Perwira Tentara Belanda kemudian memerintahkan untuk menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja dan bahkan ada yang baru berusia 11 dan 12 tahun. Beberapa orang berhasil melarikan diri ke hutan, walaupun terluka kena tembakan. Saih, kini berusia 83 tahun menuturkan, bahwa dia bersama ayah dan para tetangganya sekitar 20 orang jumlahnya disuruh berdiri berjejer. Ketika tentara Belanda memberondong dengan senapan mesin –istilah penduduk setempat: “didredet”- ayahnya yang berdiri di sampingnya tewas kena tembakan, dia juga jatuh kena tembak di tangan, namun dia pura-pura mati. Ketika ada kesempatan, dia segera melarikan diri.

Hari itu tentara Belanda membantai 431 penduduk Rawagede. Tanpa ada pengadilan, tuntutan ataupun pembelaan. Seperti di Sulawesi Selatan, tentara Belanda di Rawagede juga melakukan yang mereka namakan eksekusi di tempat (standrechtelijke excecuties). Tindakan yang jelas merupakan kejahatan perang. Diperkirakan korban pembantaian lebih dari 431, karena banyak yang hanyut dibawa sungai yang banjir karena hujan deras.

Hujan yang mengguyur mengakibatkan genangan darah membasahi desa tersebut. Yang tersisa hanya wanita dan anak-anak. Keesokan harinya, setelah tentara Belanda meninggalkan desa tersebut, para wanita menguburkan mayat-mayat dengan peralatan seadanya. Seorang ibu menguburkan suami dan 2 orang putranya yang berusia 12 dan 15 tahun. Mereka tidak dapat menggali lubang terlalu dalam, hanya sekitar 50 cm saja. Untuk pemakaman secar Islam, yaitu jenazah ditutup dengan potongan kayu, mereka terpaksa menggunakan daun pintu, dan kemudian diurug tanah seadanya, sehingga bau mayat masih tercium selama berhari-hari.

Pimpinan Republik mengadukan peristiwa pembantaian ini kepada Committee of Good Offices for Indonesia (Komisi Jasa Baik untuk Indonesia) dari PBB. Namun tindakan Komisi ini hanya sebatas pada kritik terhadap aksi militer tersebut yang mereka sebut sebagai “deliberate and ruthless”, tanpa ada sanksi yang tegas atas pelanggaran HAM, apalagi untuk memandang pembantaian rakyat yang tak bedosa sebagai kejahatan perang (war crimes).

Tahun 1969 berdasarkan keputusan sidang Parlemen Belanda, Pemerintah Belanda membentuk tim untuk meneliti kasus-kasus pelanggaran/penyimpangan yang dilakukan oleh tentara tentara kerajaan Belanda (KL, Koninklijke Landmacht dan KNIL, Koninklijke Nederlands-Indische Leger) antara tahun 1945 – 1950. Hasil penelitian disusun dalam laporan berjudul “Nota betreffende het archievenonderzoek naar gegevens omtrent excessen in Indonesi√ę begaan door Nederlandse militairen in de periode 1945-1950”, disingkat menjadi De Excessennota. Laporan resmi ini disampaikan oleh Perdana Menteri de Jong pada 2 Juni 1969. Pada bulan Januari 1995 laporan tersebut diterbitkan menjadi buku dengan format besar (A-3) setebal 282 halaman, dengan kata pengantar dari Prof Dr Jan Bank, guru besar sejarah Universitas Leiden. Di dalamnya terdapat sekitar 140 kasus pelanggaran/ penyimpangan yang dilakukan oleh tentara Belanda. Dalam laporan De Excessen Nota yang hampir 50 tahun setelah agresi militer mereka- tercatat bahwa yang dibantai oleh tentara Belanda di Rawagede “hanya” sekitar 150 orang. Juga dilaporkan, bahwa Mayor yang bertanggungjawab atas pembantaian tersebut, demi kepentingan yang lebih tinggi, tidak dituntut ke pengadilan militer.

Di Belanda sendiri, beberapa kalangan dengan tegas menyebutkan, bahwa yang dilakukan oleh tentara Belanda pada waktu itu adalah kejahatan perang (oorlogs-misdaden) dan hingga sekarang masih tetap menjadi bahan pembicaraan, bahkan film dokumenter mengenai pembantaian di Rawagede ditunjukkan di Australia. Anehnya, di Indonesia sendiri film dokumenter ini belum pernah ditunjukkan



Foto-foto tentang Monumen Rawagede lainnya, Klik di sini

Artikel lain tentang Monumen Rawa Gede :
- Monumen Rawagede di Mata Pelajar dan Generasi Muda Karawang
- Peristiwa Pembantaian di Rawagede
- RAWAGEDE & Sajak Chairil Anwar
- Catatan Kecil MONUMEN RAWAGEDE
- Rawagede saat ini...
- Kedubes Belanda janjikan Kompensasi Korban Tragedi RAWAGEDE
- Akses Jalan Ke Monumen Rawagede Rusak Parah
Read More......

Tugu Kebulatan Tekad Rengas Dengklok

Tugu Kebulatan Tekad Rengas Dengklok dibangun untuk mengenang satu kesefahaman, cita - cita, dan kebulatan tekad para pemuda Karawang dan para pejuang serta tokoh - tokoh bangsa ini untuk merebut dan melepaskan Negara Republik Indonesia yang tercinta dari kungkungan dan belenggu penjajah, menuju negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Tugu Kebulatan Tekad berlokasi di Kecamatan Rengas Dengklok yang jaraknya sekitar 20 km dari pusat kota.
baca selengkapnya ....


Tugu ini berbentuk tangan kiri yang mengepalkan tinju yang bermakna untuk MELAWAN, sedangkan tangan kanan tidak dilukiskan, yang mengandung arti atau menggambarkan memegang senjata atau bambu runcing. Yah bambu runcing,,,,,bambu runcing adalah senjata andalan para pejuang Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Sebuah senjata nan sakti mandraguna yang mampu melawan dan mengalahkan penjajah dengan senjata modern.
Adalah Djiaw Kie Siong seorang warga keturunan Tionghoa cina, yang berandil besar dalam merumuskan kemerdekaan RI. Betapa tidak, karena di rumah beliaulah Naskah Proklamasi yang menjadi tonggak awal kemerdekaan RI dirumuskan oleh bapak bangsa yaitu Sukarno - Hatta.
Saudaraku "sadulur baraya urang Karawang" seharusnya kita harus sangat berbangga hati menjadi orang Karawang, karena Karawang memegang peranan sejarah yang sangat penting bagi kemerdekaan Indonesia. Ketahuilah kota mana yang pertama kali mengibarkan sang saka Merah Putih .....??? Jawabannya adalah KARAWANG. KARAWANGlah kota yang pertama kali berani mengibarkan sang saka Merah Putih yaitu pada tanggal 16 Agustus 1945, di halaman Markas tentara PETA. (jagolah karawang nya ...}.
Jadi ..... tak ada alasan kita malu menjadi orang Karawang, Konon ada cerita seorang artis yang baru naik daun lahir di Karawang, gede di karawang, sekolah di karawang,ee (maaf) di karawang, tapi mengorbitkan nama kota lain, ada lagi karena udah pernah sekolah di luar negeri eh ngakunya anak Bandung padahal urang Karawang. Nanaonan eta teh ...........bELUM TAU MANEHNA ......
Melalui tulisan ini, mudah - mudahan kita selaku urang Karawang akan lebih lantang lagi meneriakkan AING URANG KARAWANG,

Read More......

PETA WISATA KARAWANG

Jika anda akan bepergian / berwisata ke kabupaten Karawang, ada baiknya sebelumnya lihatlah peta wisata kabupaten Karawang. Sebagai pedoman / navigasi tujuan yang anda maksud.
baca selengkapnya ....
Karawang, apabila dikunjungi akan menyimpan kenangan yang mendalam. Dan walaupun memang perlu diakui pelayanan dan pemeliharaan, serta pengelolaan yang memang belum teratur secara baik. Yah .... memang keseriusan pemerintah daerah harus mesti dipertanyakan di sini. Tapi bagaimanapun juga Karawang memberikan penawaran yang baru tentang berwisata
Read More......

BENDUNGAN WALAHAR KARAWANG

BENDUNGAN WALAHAR (PARISDO)
Bendungan Walahar terletak di Desa Walahar Kec. Ciampel, Selain menopang deras air sungai Citarum, Bendungan ini pula sebagai sarana vital akses masuk dan keluar menuju Kecamatan Ciampel, Kecamatan pecahan dari Kecamatan Teluk Jambe Timur. Bendungan ini mulai difungsikan digunakan sejak tanggal 30 November 1925. Dibangun pada masa penjajahan Belanda, namun konon pula menurut para tetua masyarakat sekitar ada yang menyebutkan dibangun pada masa penjajahan Portugis yang kemudian dilanjutkan oleh Penjajah Belanda.
Pembangunannya pada waktu itu mengandalkan tenaga pribumi.
baca selengkapnya ....
Bendungan ini berfungsi sebagai pembagi air Sungai Citarum untuk mengatur debit dan sirkulasi air dalam mengairi areal pesawahan di Karawang seluas ±87.507 ha.

Bendungan Walahar adalah saksi dari bergesernya peradaban sungai khususnya di Karawang. Setidaknya, Belanda yang terkenal memiliki keunggulan dalam sistem pengairan mempelopori dibuatnya bendungan ini dengan memaksimalkan Sungai Citarum dan membaginya kedalam anak sungai yang disebar kepenjuru Karawang.Bendungan Walahar mempunyai pesona tersendiri yang sangat menarik, tak hanya berfungsi sebagai pengatur air semata, namun juga menyimpan nilai historis yang berharga bagi
perkembangan sejarah di Karawang khususnya. Selain itu, tempat yang teduh dengan di iringi alunan deras air yang berjatuhan dari bendungan membuat suasana Bendungan Walahar ini semakin indah untuk dinikmati. Dengan situasi seperti itu, maka tak heran lagi Bendungan Walahar banyak dikunjungi oleh pengunjung baik dari pribumi Karawang bahkan di luar kota Karawang. Terutama pengunjung - pengunjung ABG yang hanya sekedar numpang ber"ajep-ajep" (berpacaran), atau mungkin "cari jodoh". Tak hanya siang hari, suasana ramaipun bisa dirasakan pada malam hari terutama pada malam minggu atau malam-malam liburan.

HARI MINGGU/HARI LIBUR, HARI PASAR WALAHAR ...... ???

Pemandangan dan suasana berbeda akan anda rasakan, manakala anda berkunjung pada hari minggu atau hari libur lainnya. Apabila tujuan anda ingin lekas - lekas mengisi perut dengan menikmati pepes ikan atau lain sebagainya, jangan harap hasrat tersebut segera terkabulkan. Pasalnya pada hari tersebut menjelang ke Bendungan Walahar akan macet karna banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar pinggir jalan. Selayaknya pasar, Bendungan Walahar terlihat sementara waktu bak pasar tumpah/pasar kaget. Namun kepenatan karna macet tersebut, mungkin akan sedikit terobati atau terhibur dengan luak - liuk para pesenam yang terkadang rutin
dilaksanakan di bendungan walahar. Tak hany itu, andapun akan disuguhi pemandangan ABG yang lalu lalang yang jogging atau jalan-jalan santai doang. Dengan pakaian dan celana ngetat buangetsss, wuiiiiiiiiiiiih, saya yakin anda akan menelan ludah kayaknya . hehehehehehehehehe

'TEMPAT HIBURAN ' atau ' TEMPAT LIBURAN ' .... ???
Bendungan Walahar menyajikan pemandangan yang eksotik nan seksi, makanya tempat ini juga menjadi tujuan wisata kuliner. Maka tidak heran jika lokasi ini menjadi salah satu tempat favorit untuk muda-mudi bermadu kasih dan tempat tua muda bersantap di warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman, khususnya dilokasi yang sudah ditata menghadap kearah bendungan. Pepes ikan dan ikan bakar menjadi menu andalan dilokasi ini. Tempat yang teduh dengan perlindungan dari beberapa pohon yang mungkin usianya sudah puluhan tahun ini ternyata kini mempunyai arti "konotatif " dari tempat hiburan. Tak hanya tempat hiburan untuk bersantai dengan keluarga, namun pula tempat hiburan untuk sang laki - laki penjelajah cinta. Tempat karaoke, dangdut live pun bahkan siap saji di sini. Tak hanya siang malam pun ayuh azah. Beberapa cafe bahkan tak sedikit menyiapkn gadis - gadis penghibur yang siap menemani malam di Walahar. Walau razia sering dilakukan, namun tetep azah tumbuh lagi - tumbuh lagi. Tau dong apa sih menu andalan Karawang??????? ya goyang nya lah. Nah silakan buktikan sendiri, anda ingin lihat pesona Karawang yuk ke Karawang
Read More......
Sejarah Karawang tidak terlepas dari peristiwa penyerangan ke Batavia oleh Sultan Agung Raja Mataram. Penyerangan ke Batavia tahun 1628 – 1629 dapat dikatakan gagal karena medan yang sangat berat dan sedang berjangkit penyakit malaria. Selain itu juga karena kurangnya pasokan makanan untuk para prajurit. Akhirnya, Sultan Agung menjadikan Karawang sebagai pusat logistik. Disinyalir, dari sinilah ilmu pertanian yang dibawa para prajurit Mataram mulai diperkenalkan di wilayah ini.

Penetapan hari jadi Karawang, didasarkan
kepada tanggal yang tercantum pada Piagam Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede 10 Mulud tahun Alif atau hari Rabu tanggal 10 Rabiulawal tahun 1403 H atau bertepatan tanggal 14 September 1633 (baca Babad Karawang oleh Mas Sutakarya).360 tahun kemudian, Karawang mulai menggeliat begitu Karawang bagian selatan ditetapkan sebagai wilayah Kawasan Industri. Dan saya menjadi saksi kemajuan yang dicapai oleh Karawang selama 16 tahun ini.

* Karawang terbelah oleh Sungai Citarum, sebelah utara Citarum merupakan hamparan sawah yang sangat subur, sedangkan sebelah selatan Citarum berupa tanah tandus, yang kemudian diplot sebagai wilayah Kawasan Industri yang luasnya mencapai 10.500 hektar.
* Hamparan sawah yang sangat luas dan subur tadi, menjadi salah satu lumbung padi Jawa Barat. Sayang sekali, areal sawah makin lama makin berkurang, mulai beralih fungsi sebagai areal komersial dan perumahan/real estate. Ironisnya, di Karawang ada satu Universitas dilengkapi dengan Fakultas Pertanian tetapi selalu saja sepi peminat.
* Karawang mempunyai garis pantai cukup panjang (Laut Jawa), yang berpotensi dikembangkan sebagai pelabuhan sekelas Tanjung Priok atau objek wisata pantai (saat ini sudah ada 2 pantai Cemara Baru dan Tanjung Baru).
* Kawasan Industri (KI) yang ada di Karawang : Karawang Prima, KIIC, Mitra, Suryacipta, Indotaise, Kujang dan masih ada beberapa lagi KI yang belum beroperasi. Ada ratusan perusahaan yang berada di KI di antaranya perusahaan otomotif dan elektronik besar seperti Toyota, Daihatsu, Yamaha, Honda, TVS, Bridgestone, Sharp, JVC, dan lain-lain. Dan kebetulan saya berkarya di salah satu perusahaan pengelola KI yang disebut di atas.
* Ada juga zona-zona industri : pabrik kertas dan pabrik tekstil.
* Karawang mempunyai 3 (tiga) lapangan golf bertaraf international.
* Karawang mempunyai 3 (tiga) areal pemakaman umum mewah, yang menjadi favorit para super kaya untuk mengistirahatkan jasadnya kelak. Bahkan, salah satunya pemakaman bernuansa rekreasi seluas 500 hektar, ada danau buatan seluas delapan hektar dengan fasilitas perahu dayung, yang dapat digunakan keluarga untuk acara multi fungsi. Ada juga gedung serbaguna, restoran Italia, serta kolam renang ukuran olympic, sistem keamanan 24 jam, dan lain-lain. Harga tanah per meter perseginya jutaan rupiah. Anda tertarik?
* Di Karawang kota, telah berdiri 2 mal (sebut saja Matahari dan Ramayana/Robinson), pusat perbelanjaan seperti Giant dan Carefour, café, karaoke, restoran modern maupun tradisional.
* Di sekitar wilayah KI ada Perum Percetakan Uang RI. Di sinilah uang RI dan surat-surat berharga seperti materai dan perangko dicetak.

Dalam hal kebudayaan, di Karawang terdapat Candi Jiwa di Kecamatan Batujaya. Situs-situs Batujaya tersebut merupakan kompleks candi yang cukup besar dan menjadi peninggalan peradaban mulai dari prasejarah hingga abad ke-10.

Kemudian, jauh sebelum Sultan Agung menyerang Batavia, pada abad XV Islam masuk ke Karawang dibawa oleh seorang ulama yang bernama Syech Quro. Beliau inilah pendiri pertama pesantren di Jawa Barat. Penyebaran Islam yang dilakukan beliau, kelak dilanjutkan oleh para walisanga. Selain itu, di Tanjungpura berdiri Kelenteng/Vihara Sian Djin Ku Poh yang dibangun pada abad XVIII.

Pada masa kemerdekaan RI, Karawang juga tercatat sebagai kota pangkal perjuangan, sehubungan dengan peristiwa Rengasdengklok.

Mudah-mudahan artikel ini bisa membantu memperkenalkan Karawang, kota kedua saya. Kapan-kapan akan saya sambung dengan tulisan karakteristik budaya dan masyarakat Karawang.

Read More......
Sekitar Abad XV Masehi, Agama Islam masuk ke Karawang yang dibawa oleh ulama besar Syeikh Hasanudin bin Yusup Idofi dari Champa yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro. Pada masa itu daerah Karawang sebagian besar masih merupakan hutan belantara dan berawa-rawa.
Keberadaan daerah Karawang yang telah dikenal
sejak Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Daerah Bogor, karena Karawang pada masa itu merupakan jalur lalu lintas yang sangat penting untuk menghubungkan Kerajaan Pakuan Pajajaran dengan Galuh Pakuan yang berpusat di Daerah Ciamis.
Luas Wilayah Kabupaten Karawang pada saat itu, tidak sama dengan luas Wilayah Kabupaten Karawang pada masa sekarang. Pada waktu itu luas Wilayah Kabupaten Karawang meliputi Bekasi, Purwakarta, Subang dan Karawang sendiri .

Setelah Kerajaan PaJajaran runtuh
pada tahun 1579 Masehi, pada tahun 1580 Masehi berdiri Kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus Kerajaan Pajajaran dengan Rajanya Prabu Geusan Ulun. Kerajaan Islam Sumedanglarang, pusat pemerintahannya di Dayeuhluhur dengan membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan,Sukakerta dan Karawang.
PhotobucketPada tahun 1608 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Ranggagempol Kusumahdinata. Pada masa itu di Jawa Tengah telah berdiri Kerajaan Mataram dengan Rajanya Sultan Agung (1613 - 1645). Salah satu cita-cita Sultan Agung pada masa pemerintahannya adalah dapat menguasai Pulau Jawa dan mengusir Kompeni (Belanda) dari Batavia.
Ranggagempol Kusumahdinata sebagai Raja Sumendanglarang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sultan Agung dan mengakui kekuasaan Mataram. Maka pada Tahun 1620, Ranggagempol Kusumahdinata menghadap ke Mataram dan menyerahkan kerajaan Sumedanglarang di bawah naungan Kerajaan Mataram.
Ranggagempol Kusumahdinata oleh Sultan Agung diangkat menjadi Bupati (Wadana) untuk tanah Sunda dengan batas-batas wilayah disebelah Timur Kali Cipamali, disebelah Barat Kali Cisadane, disebelah Utara Laut Jawa, dan disebelah Selatan Laut Kidul.

Pada Tahun 1624 Ranggagempol Kusumahdinata wafat, dan sebagai penggantinya Sultan Agung mengangkat Ranggagede, Putra Prabu Geusan Ulun.

Ranggagempol II, putra Ranggagempol Kusumahdinata yang semestinya menerima tahta kerajaan, merasa disisihkan dan sakit hati. Kemudian beliau berangkat ke Banten untuk meminta bantuan Sultan Banten agar dapat menaklukkan Kerajaan Sumedanglarang dengan imbalan apabila berhasil, maka seluruh wilayah kekuasaan Sumedanglarang akan diserahkan kepada Banten.
Sejak itu banyak tentara Banten yang dikirim ke Karawang terutama di sepanjang Sungai Citarum, di bawah Pimpinan Sultan Banten bukan saja untuk memenuhi permintaan Ranggagempol II, Tetapi merupakan awal usaha Banten untuk menguasai Karawang sebagai persiapan merebut kembali pelabuhan Banten yang telah dikuasai oleh Kompeni (Belanda), yaitu pelabuhan Sunda Kelapa.
Masuknya tentara Banten ke Karawang beritanya telah sampai ke Mataram. Pada Tahun 1624, Sultan Agung mengutus Surengrono (Aria Wirasaba) dari Mojo Agung, Jawa Timur untuk berangkat ke Karawang dengan membawa 1000 Prajurit dengan keluarganya, dari Mataram melalui Banyumas dengan tujuan untuk membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik dengan membangun gudang-gudang beras dan meneliti rute penyerangan Mataram ke Batavia.
Langkah awal yang dilakukan Aria Surengrono adalah dengan mendirikan 3 (tiga) Desa yaitu Waringinpitu (Telukjambe), Desa Parakansapi (di Kecamatan Pangkalan yang sekarang telah terendam Waduk Jatiluhur) dan Desa Adiarsa (Sekarang ternlasuk di Kecamatan Karawang Barat), dengan pusat kekuatan di ditempatkan di Desa Waringinpitu.
Karena jauh dan sulitnya hubungan antara Karawang dengan Mataram, Aria Wirasaba belum sempat melaporkan tugas yang sedang dilaksanakan kepada Sultan Agung. Keadaan ini menjadikan Sultan Agung mempunyai angqapan bahwa tuqas yang diberikan kepada Aria Wirasaba gagal dilaksanakan.
Demi menjaga keselamatan Wilayah Kerajaan Mataram sebelah barat, pada tahun 1628 dan 1629, bala tentara Kerajaan Mataram diperintahkan Sultan Agung untuk melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia. Namun serangan ini gagal disebabkan keadaan medan yang sangat berat. Sultan Agung kemudian menetapkan Daerah Karawang sebagai pusat logistik yang harus mempunyai pemerintahan sendiri dan langsung berada dibawah pengawasan Mataram serta harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang cakap dan ahli perang sehingga mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun pesawahan guna mendukung pengadaan logistik dalam rencana penyerangan kembali terhadap VOC (belanda) di Batavia.
Pada tahun 1632, Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa Sari Galuh dengan membawa 1.000 prajurit dengan keluarganya menuju Karawang. Tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik sebagai bahan persiapan melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia, sebagaimana halnya tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba yang dianggap gagal.
Tugas yang diberikan kepada Wiraperbangsa dapat dilaksanakan dengan baik dan hasilnya langsung dilaporkan kepada Sultan Agung. Atas keberhasilannya Wiraperbangsa oleh Sultan Agung dianugrahi jabatan Wedana (Setingkat Bupati) di Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi III serta diberi hadiah sebilah keris yang bernama "Karosinjang".
Setelah penganugrahan gelar tersebut yang dilakukan di Mataram, Wiraperbangsa bermaksud akan segera kembali ke Karawang, namun sebelumnya beliau singgah dahulu ke Galuh untuk menjenguk keluarganya.Atas takdir IIlahi Beliau kemudian wafat saat berada di Galuh.
Setelah Wiraperbangsa Wafat, Jabatan Bupati di Karawang dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Singaperbangsa dengan gelar Adipati Kertabumi IV yang memerintah pada tahun 1633-1677.
PhotobucketPada abad XVII kerajaan terbesar di Pulau Jawa adalah Mataram, dengan raja yang terkenal yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. la tidak menginginkan wilayah Nusantara diduduki atau dijajah oleh bangsa lain dan ingin mempersatukan Nusantara.
Dalam upaya mengusir VOC yang telah menanamkan kekuasaan di Batavia, Sultan Agung mempersiapkan diri dengan terlebih dahulu menguasai daerah Karawang, untuk dijadikan sebagai basis atau pangkal perjuangan dalam menyerang VOC.
Ranggagede diperintahnya untuk mempersiapkan bala tentara/prajurit dan logistik dengan membuka lahan-Iahan pertanian, yang kemudian berkembang menjadi lumbung padi.
Tanggal 14 September 1633 Masehi, bertepatan dengan tanggal 10 Maulud 1043 Hijriah, Sultan Agung melantik Singaperbangsa sebagai Bupati Karawang yang pertama, sehingga secara tradisi setiap tanggal 10 Maulud diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Karawang.
Berawal dari sejarah tersebut dan perjuangan persiapan proklamasi kemerdekaan RI, Karawang lebih dikenal dengan julukan sebagai kota pangkal perjuangan dan daerah lumbung padi Jawa Barat.
Foto-foto Kabupaten Karawang Klik atau Download di sini ;


Artikel - artikel terkait tentang sejarah Karawang :

* Sejarah Karawang Yang Tercantum Di Musium Indonesia
* Sejarah Karawang

Read More......
PERCAYALAH....!!! IKLAN INI BUKAN PENIPUAN,
 
-
Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.